Suku di Indonesia

 Apa aja sih suku - suku di Indonesia ?

Berikut suku - suku di Indonesia 

1. Suku Sakai 

Orang Sakai merupakan sekumpulan masyarakat yang terasing dan hidup masih secara tradisional dan nomaden pada suatu kawasan di pulau Sumatra, Indonesia. Orang Sakai hidup menjauhkan diri dari kehidupan masyarakat yang luas. Sebelumnya, Orang Sakai dinamai Orang Pebatin.

Suku Sakai menjadi salah satu suku yang terasing di Indonesia, oleh sebab itu keberadaan serta informasi jarang diketahui.

• Asal Usul Suku Sakai

Seperti yang dibahas di atas bahwa asal usul Suku Sakai juga masih menjadi perdebatan, hal ini sendiri karena adanya perbedaan dari ciri fisik orang-orang Sakai yang sedikit berbeda antara satu dan yang lainnya. Para peneliti berpendapat bahwa mereka tergolong ras veddoid atau juga masih keturunan Pagaruyung (Minangkabau) kemudian mereka hijrah ke Riau berabad-abad yang lalu.

Ada juga orang yang berpendapat bahwa suku ini keturunan langsung dari Nabi Adam hal ini diperkuat dengan banyaknya Orang Sakai yang beragama Islam. Tak berhenti sampai disitu, ada lagi yang menyimpulkan bahwa mereka adalah berasal dari ras Proto-Melayu (Melayu Tua) dan Deutro-Melayu (Melayu Muda). Namun pendapat terakhir yang paling kuat mereka adalah campuran dari ras Veddoid dan Austroloid. 


• Asal Muasal Kata 'Sakai'

Konon katanya 'Sakai' memiliki kepanjangan Sungai, Kampung, Anak, dan Ikan. Maksud dari sungai adalah karena mereka cenderung hidup di dekat sungai untuk memenuhi kebutuhan mereka, kemudian untuk kata kampung karena mereka memang tinggal di kampung pedalaman yang bahkan sulit dijangkau, selanjutnya untuk kata anak sendiri adalah penyebutan untuk orang-orang di sana dan yang terakhir adalah ikan dimana makanan yang paling sering mereka makan adalah ikan. 

• Cara Bertahan Hidup Ala 'Sakai'

Well, karena mereka memang hidup di hutan mereka pun harus menyatu dengan alam. Dimana semua alat-alat untuk memenuhi kebutuhan adalah dari alam, salah satu alat yang dimiliki oleh mereka adalah Timo yang merupakan alat yang terbuat dari kulit kerbau yang dikeringkan dan digunakan untuk menyimpan makanan serta bisa juga digunakan untuk memasak madu.

Orang Sakai walaupun berpindah-pindah juga masih melakukan aktivitas pertanian dimana salah satu yang ditanam adalah Ubi Manggalo yang ditanam dengan bantuan Gegalung Galo atau alat untuk menjepit tanaman tersebut. Kemudian seperti suku yang hidup di hutan mereka juga menggunakan pakaian dari kulit-kulit pohon.

• Kepercayaan Orang Sakai Akan Antu

Meskipun mereka kebanyakan adalah sudah Muslim atau memeluk agama Islam, tetapi mereka juga masih memiliki kebudayaan yang cukup kental salah satunya adalah kepercayaan mereka terhadap 'antu'. Dalam bahasa orang-orang Sakai antu merupakan mahluk ghaib atau makhluk halus, para antu tersebut sering dikaitkan dengan hukum adat dan juga berhasil atau tidaknya dalam panen saat bercocok tanam.

• Mulai Sulit Ditemukan

Untuk sekarang kabarnya Orang-orang Sakai mulai sulit untuk ditemukan, hal ini karena banyak ulah orang yang tak bertanggung jawab dengan merusak hutan-hutan di wilayah Riau. Akibatnya banyak dari orang-orang Sakai yang berpencar dan mencari kehidupan di daerah lainnya, salah satu yang pernah ditemukan mereka juga tersebar di Jambi.

Selain itu, karena keterbatasan mereka terhadap teknologi dan perkembangan zaman juga membuat mereka semakin terisolir dan kerap diremehkan dalam kehidupan. Hal ini pun rasanya amat disayangkan karena Suku Sakai ini bisa disebut adalah penyeimbang dari ekosistem dengan gaya hidup mereka yang tidak merusak alam serta nomaden tersebut.

Sumber : https://www.melihatdunia.xyz/2020/06/fakta-unik-suku-sakai.html?m=1


2. Suku Wajak 

tahukah kamu dari berbagai macam jenis suku di Indonesia, siapakah suku tertua di Indonesia?

Suku tertua di Indonesia adalah Suku Wajak. Suku tersebut berasal dari Desa Wajak, daerah Tulungagung, Jawa Timur. Eksistensi Suku Wajak diperkirakan telah ada sejak 500 ribu hingga 1 juta tahun lalu. Sudah lama sekali bukan?

Bukti pertanda Suku Wajak menjadi suku tertua di Indonesia juga didukung oleh penemuan fosil manusia purba yang tidak lain dari jenis Homo Wajakensis. Tulungagung menjadi lokasi penemuan fosil manusia purba ini. Sekumpulan penemuan bukti menjadi penanda keberadaan manusia telah dibangun sejak ratusan bahkan jutaan tahun lampau.

suku tertua di indonesia

Fosil-fosil homo wajakensis. Foto: asset.kompas.com

Adapun dilansir dari goodnewsfromindonesia.id, konon Suku Wajak memiliki kehebatan yang tak tertandingi oleh suku-suku lain. Salah satu kehebatan suku tersebut yakni dalam bidang kemaritiman. Samudra luas adalah hal mudah untuk diarungi, walaupun hanya menggunakan perahu sampan dari pohon besar yang dilubangi.

Tidak lama kemudian, keberadaan suku tersebut kabarnya menghilang dari 20 ribu tahun lalu. Beberapa pendapat ahli mengungkapkan, hilangnya suku tertua ini dikarenakan eksodus rakyat Wajak ke Jepang, tepatnya di Pulau Ainu dan Pulau Jumono.

Konon, kepindahan Suku Wajak di Jepang disebabkan karena akibat letusan tiga gunung berapi di Indonesia, yaitu Gunung Toba, Gunung Dempo, dan Gunung Krakatau yang kala itu mengakibatkan bencana tsunami.

Namun, penyebab menghilangnya suku tertua ini masih belum diketahui dengan jelas. Sebab Suku Wajak menghilang secara tiba-tiba. Maka dari itu, hingga saat ini runutan sejarah suku tersebut masih belum diketahui dengan pasti.

Hal tersebut pun mengakibatkan timbulnya dugaan-dugaan lain dari masyarakat. Dugaan tersebut bisa berupa cerita ataupun mitos yang dipertanyakan kebenarannya.

Meskipun runutan sejarah belum diketahui secara pasti, akan tetapi cerita keberadaan Suku Wajak telah diyakini oleh masyarakat Desa Wajak. Rasa bangga tersebut telah mendarah daging dan menjadi tanda kebanggaan bahwa leluhurnya adalah suku tertua di Indonesia.

Selain itu Suku Wajak dikenal sebagai suku orang-orang cerdas. Namun hingga saat ini belum ada runtutan sejarah yang jelas mengenai keberadaan suku ini. Lantaran, Suku Wajak menghilang secara misterius dan tidak diketahui keberadaannya.

 Sumber : https://sampaijauh.com/suku-wajak-suku-tertua-di-indonesia-dari-1-juta-tahun-lalu-12636/amp


3. Suku kajang 

Suku Kajang merupakan salah satu suku tradisional, yang terletak di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Letaknya sekitar 200 km arah timur Kota Makassar. Daerah Kajang terbagi dalam 8 desa, dan 6 dusun. Kajang di bagi dua secara geografis, yaitu Kajang dalam dan Kajang luar.

Suku Kajang hanya mengenal satu warna untuk pakaian adatnya, yaitu warna hitam. Warna hitam bermakna persamaan dalam segala hal, termasuk pula kesederhanaan. Tidak ada warna hitam yang lebih baik antara satu yang lainnya karena semua hitam adalah sama.

Suku kajang tersebar di pedalaman timur Indonesia tepatnya di kawasan adat Tana Toa, kabupaten Bulukumba, Sulawesi selatan, secara geografis dan administratif, masyarakat adat Kajang terbagi atas Kajang Dalam dan Kajang Luar. Masyarakat Adat Kajang Dalam tersebar di beberapa desa, antara lain Desa Tana Toa, Bonto Baji, Malleleng, Pattiroang, Batu Nilamung dan sebagian wilayah Desa Tambangan. Kawasan Masyarakat Adat Kajang Dalam secara keseluruhan berbatasan dengan Tuli di sebelah Utara, dengan Limba di sebelah Timur, dengan Seppa di sebelah Selatan, dan dengan Doro di sebelah Barat. Sedangkan Kajang Luar tersebar di hampir seluruh Kecamatan Kajang dan beberapa desa di wilayah Kecamatan Bulukumba, di antaranya Desa Jojolo, Desa Tibona, Desa Bonto Minasa dan Desa Batu Lohe.

Namun, hanya masyarakat yang tinggal di kawasan Kajang Dalam yang masih sepenuhnya berpegang teguh kepada adat Ammatoa. Mereka mempraktekkan cara hidup sangat sederhana dengan menolak segala sesuatu yang berbau teknologi. Bagi mereka, benda-benda teknologi dapat membawa dampak negatif bagi kehidupan mereka, karena bersifat merusak kelestarian sumber daya alam. Komunitas yang selalu mengenakan pakaian serba hitam inilah yang kemudian disebut sebagai masyarakat adat Ammatoa.

Masyarakat Ammatoa memraktekkan sebuah agama adat yang disebut dengan Patuntung. Istilah Patuntung berasal dari tuntungi, kata dalam bahasa Makassar yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti “mencari sumber kebenaran. Ajaran Patuntung mengajarkan—jika manusia ingin mendapatkan sumber kebenaran tersebut, maka ia harus menyandarkan diri pada tiga pilar utama, yaitu menghormati Tuhan dan Nenek moyang (Turiek Akrakna). Kepercayaan dan penghormatan terhadap Turiek Akrakna merupakan keyakinan yang paling mendasar dalam agama Patuntung. Masyarakat adat Kajang percaya bahwa Turiek Akrakna adalah pencipta segala sesuatu, Maha Kekal, Maha Mengetahui, Maha Perkasa, dan Maha Kuasa.

Turiek Akrakna menurunkan perintah-Nya kepada masyarakat Kajang dalam bentuk pasang (sejenis wahyu dalam tradisi agama Abrahamik) melalui manusia pertama yang bernama Ammatoa. Secara harfiah, pasang berarti “pesan”. Namun, pesan yang dimaksud bukanlah sembarang pesan. Pasang adalah keseluruhan pengetahuan dan pengalaman tentang segala aspek dan lika-liku yang berkaitan dengan kehidupan yang dipesankan secara lisan oleh nenek moyang mereka dari generasi ke generasi. Pasang tersebut wajib ditatati, dipatuhi, dan dilaksanakan oleh masyarakat adat Ammatoa. Jika masyarakat melanggar pasang, maka akan terjadi hal-hal buruk yang tidak diinginkan. Hal ini disebutkan dalam sebuah pasang yang berbunyi “Punna suruki, bebbeki. Punna nilingkai pesokki Yang artinya: Kalau kita jongkok, gugur rambut, dan tidak tumbuh lagi. Kalau dilangkahi kita lumpuh.

Agar pesan-pesan yang diturunkan-Nya ke bumi dapat dipatuhi dan dilaksanakan oleh manusia, Turiek Akrakna memerintahkan Ammatoa untuk menjaga, menyebarkan, dan melestarikan pasang tersebut. Fungsi Ammatoa dalam masyarakat Kajang adalah sebagai mediator, pihak yang memerantarai antara Turiek Akrakna dengan manusia. Dari mitos yang berkembang dalam masyarakat Kajang, Ammatoa merupakan manusia pertama yang diturunkan oleh Turiek Akrakna ke dunia. Masyarakat Kajang meyakini bahwa tempat pertama kali Ammatoa diturunkan ke bumi adalah kawasan yang sekarang ini menjadi tempat tinggal mereka. Suku Kajang menyebut tanah tempat tinggal mereka saat ini sebagai Tanatoa, “tanah tertua”, tanah yang diwariskan oleh leluhur mereka. Mereka percaya, konon di suatu hari dalam proses penciptaan manusia pertama di muka bumi, turunlah To Manurung dari langit. Turunnya To Manurung itu mengikuti perintah Turek Akrakna atau Yang Maha Berkehendak. Syahdan, To Manurung turun ke bumi dengan menunggangi seekor burung Kajang atau burung gagak yang menjadi cikal bakal manusia. Saat ini, keturunanya telah menyebar memenuhi permukaan bumi. Namun, di antara mereka ada satu kelompok yang sangat dia sayangi, yakni orang Kajang dari Tanatoa. Bagi orang Kajang, kepercayaan tentang To Manurung ini diterima sebagai sebuah realitas. Di tanah tempat To Manurung mendarat, mereka mendirikan sebuah desa yang disebut sebagai Tanatoa atau tanah tertua. Karena itu, mereka meyakini To Manurung sebagai Ammatoa (pemimpin tertinggi Suku Kajang) yang pertama dan mengikuti segala ajaran yang dibawanya.

Kini, ajaran tersebut menjadi pedoman mereka dalam kehidupan sehari-hari, dan nama burung Kajang kemudian digunakan sebagai nama komunitas mereka.

Sumber : https://www.ketiknews.id/seni-budaya/pr-3012058381/Mengenal-Sejarah-Suku-Kajang--Bulukumba


4. Suku Polahi

Suku Polahi adalah sebukan untuk suku terasing yang hidup di hutan pedalaman Gorontalo. Menurut cerita yang beredar di masyarakat, polahi adalah masyarakat pelarian zaman dahulu yang melakukan eksodus .

Kehidupan suku Polahi di Gorontalo terkenal masih sangat tertutup. Suku Polahi merupakan kelompok masyarakat yang berdiam di salah satu wilayah di Gorontalo.


Masyarakat Polahi merupakan suku terdalam asli dari Gorontalo yang tidak mengalami revolusi. Masyarakat suku Polahi menggunakan bahasa asli Gorontalo zaman dahulu, mereka juga menggunakan bahasa tubuh yang hanya dimengerti oleh suku mereka.


Bahkan mereka diketahui saling kawin mawin dalam satu keluarga alias inses. Berikut sederet fakta suku Polahi di Gorontalo.


1. Sejarah Suku Polahi

Konon, dahulu masyarakat suku Polahi adalah masyarakat yang tidak ingin ditindas dan dijajah oleh Belanda pada masa penjajahan. Kemudian mereka membentuk sebuah kelompok dan melarikan diri ke hutan.Di pedalaman hutan Boliyohuto di Provinsi Gorontalo lah suku Polahi hidup secara nomaden. Berdasarkan catatan sejarah, suku Polahi merupakan masyarakat buronan pada zaman Belanda.


Hingga Indonesia merdeka, mereka tetap tinggal di sana dan menganggap orang luar adalah penjajah. Maka dari itu, mereka dikenal primitif.

2. Keyakinan Suku Polahi

Suku Polahi Gorontalo diketahui tidak menganut agama atau keyakinan apa pun. Mereka hanya menjalani hidup mereka tanpa memikirkan keyakinan apa yang harus dianut.

Menurut cerita Putri Gorontalo Utara yang telah menjadi istri raja (Kepala Suku Polahi) ke-3, mereka tidak mengerti agama. Namun, mereka diberitahu sedikit demi sedikit tentang larangan memakan hewan yang dilarang dalam agama.

Misalnya seperti babi, ular, dan lain sebagainya yang biasanya menjadi santapan suku Polahi ketika berburu binatang buas. Hal itu dikarenakan latar belakang putri (istri Raja) sebagai warga desa yang beragama Islam.


3. Bahasa Suku Polahi

Masyarakat suku Polahi terlahir di tengah pegunungan yang jauh dari kebisingan dan keramaian manusia serta kendaraan. Diketahui sejak mereka lahir hingga dewasa, bahasa yang digunakan adalah bahasa tradisional dari daerah Gorontalo atau disebut bahasa hulonthalo.

Dengan bahasa hulonthalo ini, warga Polahi hanya dapat beradaptasi dengan penduduk desa. Mereka tidak lancar menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

4. Kawin Sedarah

Salah satu tradisi menarik dari masyarakat suku Polahi adalah perkawinan sedarah atau inses. Pernikahan tersebut bisa antara ibu dan anak laki-laki, bapak dan anak perempuan, maupun saudara laki-laki dan saudara perempuannya.


Sumber : https://www.liputan6.com/regional/read/5055841/4-fakta-suku-polahi-di-gorontalo-salah-satunya-pernikahan-sedarah




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Tari Kreasi

Menyanyikan lagu secara solo/tunggal

Tugas | 1 TIK